0

Mungkinkah Rp. 50.000,- menjadi Rp. 500.000,-??

Posted by Sinden Kata on 23.58
Lama tidak menulis,
Hari ini, jari-jariku menyinden lagi…


02 September 2014, 04:00 WIB…

Selepas sholat malam dan subuh, aku pun membangunkan istriku untuk sholat…

Karena aku sudah duluan sholat, maka ketika istriku sholat aku pun menyalakan TV untuk sekedar menonton berita.

Selesai sholat, istriku memulai obrolan dengan pertanyaan..
“Pa, dulu kamu ngasih sumbangan anak yatim di sekolahan Rassya (anakku) emang berapa?”
Pertanyaan sama yang pernah dia tanyakan padaku dua tahun yang lalu…


Dua tahun yang lalu….

Seperti biasanya, aku mengantar Rassya ke sekolahnya.
Aku anggap, tidak ada hal yang akan terjadi diluar biasanya…
Nganter, sampai sekolah, nurunin anak, dan menemaninya sampai ke kelasnya, pamitan, dan lalu pergi…
Ternyata perkiraanku salah…
Sesampainya aku nganter anak ke kelasnya, tiba-tiba gurunya ( Bu Ima) bertanya padaku…

“Pak, apakah ada amplop santunannya Rassya?”

Kaget aku dibuatnya dengan pertanyaan itu…
Ketidaktahuanku ternyata membuat Bu Ima salah tingkah.
Akhirnya, dia menjelaskan kalau hari ini adalah batas akhir penyerahan amplop santunan…

Semakin kagetlah diriku, kenapa istriku tidak pernah cerita padaku?
Ku jawab, “Ya, Bu… sebentar… saya bisa minta amplopnya?”
Bu Ima masuk ke ruang guru dan kembali lagi sambil membawa amplop putih kecil.

Kulangkahkan kaki menjauhi Bu Ima sambil tangan kananku merogoh dompet dari saku celana.
Begitu ku buka dompet, Yaa Salammmmm….. hanya ada 1 lembaran uang Rp. 50.000,-
Ku masukkan uang tersebut ke amplop dan kutarik lapisan lemnya agar amplop tertutup rapat lalu ku serahkan ke Bu ima…. “ini, Bu… makasih”.
segera kutinggalkan kelas anakku.

Masuk mobil, tanpa mengurangi ikhlasku akan santunan, aku telpon istriku untuk complain kenapa dia tidak aware akan hal itu…

memang, selama ini aku banyak komplain ke istriku jika ada ketidakberesan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan sekolah anak.
Misal, buku pelajaran ketinggalan… buku pelajaran sobek… seragam kurang bersih… tas sekolah kotor… dll.. termasuk uang santunan ini.

Aku sering bilang, pastikan segala sesuatu yang berhubungan dengan sekolah anak perfect…
Buatlah anak itu bangga dengan apa yang ada di dirinya ketika disekolah, jangan sekali-kali membuat anak minder, dan buatlah anak itu berbeda dengan teman2nya karena prestasi dan penampilannya.

Waktu berlalu…………
Tanpa kita ketahui, pihak sekolah ternyata memajang semua donatur di papan sekolahan tentang jumlah uang santunan dari orang tua siswa…

Kuterima BBM dari istri, “kemarin pas santunan papa ngasih berapa?”
“Rp. 50.000,-“, jawabku…
Lanjut istriku, “kok kata ibu-ibu temannya Rassya tertulis”Mama Rassya = Rp. 500.000,-“?”.
“masa??”, kagetku… “coba besok disekolah dilihat sendiri apa benar Rp. 500.000,-“.

Keesokan harinya, istriku mengabarkan, memang benar tertulis “Mama Rassya = Rp. 500.000,-“ diantara nama Ibu-ibu lainnya yang rata-rata santunannya berkisar Rp. 50.000 – Rp. 200.000.
Dasar ibu-ibu, karena kejadian itu, men-seleb-lah istriku disekolahan anakku karena tulisan itu.


Kembali, 02 September 2014, 04:00 WIB…

“tadi ibu-ibu pada ngomongin masalah santunan itu lagi”, kata istriku.
Kata mama xxxxx, “Ibu itu orangnya sederhana ya dan tidak sombong. Dulu aja nyumbang Rp. 500.000,-“.
“enggak, Bu… dulu cuma nyumbang Rp. 50.000,- kok“, sanggah istriku.
Kata mama yyyy, “Ibu itu… blaa…blaa… blaa.. “
Tanpa kudetilkan obrolan antar mereka, yang pasti obrolan mereka hanya pujian buat istri sesekali enyel-enyelan tentang Rp. 50.000,- dan Rp. 500.000,- itu.


Wahhh, semakin men-seleb nih istriku….
Kirain topic santunan tersebut sudah berhenti… ehhh, lepas dua tahun masih aja diobrolin…
Ibu-ibu kalau sudah ngrumpi sangat dahsyat efeknya…..

Paling juga pihak sekolah salah ketik ngumuminnya….
Atau, pihak sekolah kasihan… biar gk malu-malu amat karena hanya nyumbang Rp. 50.000,- akhirnya ditulis Rp. 500.000,-……….. hahahaha (dalam hatiku).





0 Comments

Posting Komentar

Copyright © 2009 Sinden Kata All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.