0

Tuhan Maha Kuasa, Maha Pemberi, dan Maha Penolong hamba-hamba-Nya.

Posted by Sinden Kata on 15.25
ibadah haji, ladang ibadah kita...

diceritakan oleh ibu saya,
ini cerita nyata dari bulek saya, adiknya ibu..

pada awal berumah tangga, bulek saya pernah mukim di kota Makkah-Madinah.
saat mukim di Madinah, ibu mertuanya datang dari Indonesia untuk menunaikan haji tapi dalam kapasitas "turis".
artinya, karena keterbatasan dana, ibu mertuanya berangkat haji tidak memakai jasa Depag ataupun KBIH.
dengan demikian, ibu mertuanya tersebut sangat bergantung dengan segala bantuan, arahan, dan tumpangan dari bulek saya tersebut.

sesampainya di Madinah, rangkaian ibadah haji pun dimulai..
segala bantuan tenaga, pikiran, dll telah dilakukan bulek saya untuk menemani ibu mertuanya yang sedang haji supaya lancar dan khidmat..

tapi akhirnya masalah pun muncul..
ini adalah tentang dana atau uang...

bulek saya pada waktu mukim telah mempunyai 2 anak yang masih kecil...
sayang, saya tidak mendapatkan informasi dari ibu saya apa pekerjaan suami bulek saya...
yang diceritakan ibu ke saya, namanya juga perantauan di negeri orang, kondisi ekonomi bulek saya sangat pas-pasan..

ketika harus berangkat menuju Makkah untuk melanjutkan ibadah hajinya, ibu mertuanya berkata ke bulek saya..." lha aku iki meh neng Makkah mbok sanguni rak?" ("lha ini aku mau ke Makkah, kamu kasih bekal (uang) atau tidak?")...

saat itu bulek saya sedang "krisis-krisinya".
lalu, bulek saya segera menjauhi ibu mertuanya untuk menghitung kemampuan finansialnya.
bulek saya memutuskan, dari jatah uang sebulan yang dia terima dari suami akan dia berikan semua. dia hanya menyisikan uang belanja dapur untuk 2 hari ke depan itupun demi makannya anak-anak.

lalu dia berdoa, "Ya Alloh, Engkau pasti tahu keadaan saya. saya saat ini juga sedang mmbutuhkan uang banyak. tapi saya ikhlas memberikan uang ini buat menyenangkan hati ibu saya dan sebagai bekal ibadah hajinya".

berangkatlah mereka ke Makkah.

seiring berjalannya waktu di Makkah, tanpa menceritakan ke ibu mertuanya, "himpitan" akan kebutuhan uang sangat dirasakan bulek saya. uang pun habis ditangan.

justru, pada kondisi kritis ini lah keajaiban atau lebih tepatnya pertolongan Tuhan terjadi.
seusai menunaikan sholat di Masjidil Haram, masih dalam posisi takhiyyat tiba-tiba di depan bulek saya ada laki-laki tinggi besar menjatuhkan segepok uang real di pangkuannya.

Tidak kenal, kaget dan takutpun campur aduk dalam dirinya..
"ini uang apa?! ini uang siapa?! kamu siapa?!, teriaknya dalam bahasa arab.

"untukmu...! untukmu...! untukmu...!", jawab laki-laki tersebut seraya berlalu.

ternyata uang yg dberikan dlm jumlah berkali lipat kalo dibandingkan uangnya yang diberikannya ke ibu mertua. 
pecahlah tangis sedunya sambil ucap syukur berkali-kali.

Sampai sekarang pun dia tidak tahu siapa laki-laki tinggi besar itu.

---
Tuhan Maha Kuasa, Maha Pemberi, dan Maha Penolong hamba-hamba-Nya.




0

Mungkinkah Rp. 50.000,- menjadi Rp. 500.000,-??

Posted by Sinden Kata on 23.58
Lama tidak menulis,
Hari ini, jari-jariku menyinden lagi…


02 September 2014, 04:00 WIB…

Selepas sholat malam dan subuh, aku pun membangunkan istriku untuk sholat…

Karena aku sudah duluan sholat, maka ketika istriku sholat aku pun menyalakan TV untuk sekedar menonton berita.

Selesai sholat, istriku memulai obrolan dengan pertanyaan..
“Pa, dulu kamu ngasih sumbangan anak yatim di sekolahan Rassya (anakku) emang berapa?”
Pertanyaan sama yang pernah dia tanyakan padaku dua tahun yang lalu…


Dua tahun yang lalu….

Seperti biasanya, aku mengantar Rassya ke sekolahnya.
Aku anggap, tidak ada hal yang akan terjadi diluar biasanya…
Nganter, sampai sekolah, nurunin anak, dan menemaninya sampai ke kelasnya, pamitan, dan lalu pergi…
Ternyata perkiraanku salah…
Sesampainya aku nganter anak ke kelasnya, tiba-tiba gurunya ( Bu Ima) bertanya padaku…

“Pak, apakah ada amplop santunannya Rassya?”

Kaget aku dibuatnya dengan pertanyaan itu…
Ketidaktahuanku ternyata membuat Bu Ima salah tingkah.
Akhirnya, dia menjelaskan kalau hari ini adalah batas akhir penyerahan amplop santunan…

Semakin kagetlah diriku, kenapa istriku tidak pernah cerita padaku?
Ku jawab, “Ya, Bu… sebentar… saya bisa minta amplopnya?”
Bu Ima masuk ke ruang guru dan kembali lagi sambil membawa amplop putih kecil.

Kulangkahkan kaki menjauhi Bu Ima sambil tangan kananku merogoh dompet dari saku celana.
Begitu ku buka dompet, Yaa Salammmmm….. hanya ada 1 lembaran uang Rp. 50.000,-
Ku masukkan uang tersebut ke amplop dan kutarik lapisan lemnya agar amplop tertutup rapat lalu ku serahkan ke Bu ima…. “ini, Bu… makasih”.
segera kutinggalkan kelas anakku.

Masuk mobil, tanpa mengurangi ikhlasku akan santunan, aku telpon istriku untuk complain kenapa dia tidak aware akan hal itu…

memang, selama ini aku banyak komplain ke istriku jika ada ketidakberesan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan sekolah anak.
Misal, buku pelajaran ketinggalan… buku pelajaran sobek… seragam kurang bersih… tas sekolah kotor… dll.. termasuk uang santunan ini.

Aku sering bilang, pastikan segala sesuatu yang berhubungan dengan sekolah anak perfect…
Buatlah anak itu bangga dengan apa yang ada di dirinya ketika disekolah, jangan sekali-kali membuat anak minder, dan buatlah anak itu berbeda dengan teman2nya karena prestasi dan penampilannya.

Waktu berlalu…………
Tanpa kita ketahui, pihak sekolah ternyata memajang semua donatur di papan sekolahan tentang jumlah uang santunan dari orang tua siswa…

Kuterima BBM dari istri, “kemarin pas santunan papa ngasih berapa?”
“Rp. 50.000,-“, jawabku…
Lanjut istriku, “kok kata ibu-ibu temannya Rassya tertulis”Mama Rassya = Rp. 500.000,-“?”.
“masa??”, kagetku… “coba besok disekolah dilihat sendiri apa benar Rp. 500.000,-“.

Keesokan harinya, istriku mengabarkan, memang benar tertulis “Mama Rassya = Rp. 500.000,-“ diantara nama Ibu-ibu lainnya yang rata-rata santunannya berkisar Rp. 50.000 – Rp. 200.000.
Dasar ibu-ibu, karena kejadian itu, men-seleb-lah istriku disekolahan anakku karena tulisan itu.


Kembali, 02 September 2014, 04:00 WIB…

“tadi ibu-ibu pada ngomongin masalah santunan itu lagi”, kata istriku.
Kata mama xxxxx, “Ibu itu orangnya sederhana ya dan tidak sombong. Dulu aja nyumbang Rp. 500.000,-“.
“enggak, Bu… dulu cuma nyumbang Rp. 50.000,- kok“, sanggah istriku.
Kata mama yyyy, “Ibu itu… blaa…blaa… blaa.. “
Tanpa kudetilkan obrolan antar mereka, yang pasti obrolan mereka hanya pujian buat istri sesekali enyel-enyelan tentang Rp. 50.000,- dan Rp. 500.000,- itu.


Wahhh, semakin men-seleb nih istriku….
Kirain topic santunan tersebut sudah berhenti… ehhh, lepas dua tahun masih aja diobrolin…
Ibu-ibu kalau sudah ngrumpi sangat dahsyat efeknya…..

Paling juga pihak sekolah salah ketik ngumuminnya….
Atau, pihak sekolah kasihan… biar gk malu-malu amat karena hanya nyumbang Rp. 50.000,- akhirnya ditulis Rp. 500.000,-……….. hahahaha (dalam hatiku).





Copyright © 2009 Sinden Kata All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.