0

“Tak lapuk dimakan usia, tak roboh diterjang krisis”

Posted by Sinden Kata on 23.56
Mumpung masih segar dalam ingatan sehabis ikut sebuah seminar,
Berikut saya sharing beberapa point materi seminar tersebut.
let's go... 

--------------

Tahun-tahun ke depan, dipastikan perekomonomian akan semakin kompetitif.

Hukum alamiah…
siapa yang paling bisa beradaptasi, dialah yang akan bertahan.
Siapa yang paling tidak bisa beradaptasi, dialah yang pertama akan tereliminasi.

Jika anda seorang pelaku bisnis, pasti anda menginginkan bisnis anda built to last…
“Tak lapuk dimakan usia, tak roboh diterjang krisis”

anda pasti tahu Boeing,
anda pasti tahu juga Hewlett-Packard,
Sony,
unilever dll…
Mereka adalah beberapa contoh perusahaan visioner yang mampu bertahan puluhan atau bahkan ratusan tahun.

Ada banyak sekali faktor yang berpengaruh terhadap kelangsungan sebuah bisnis.
Dalam seminar tersebut, digambarkan  sebagai berikut




Terdapat 3 layers,

dimana bisnis anda adalah menjadi layer utamanya.

Dalam layer selanjutnya (layer ke-2) bisnis anda akan bersaing dengan competitor dalam hal yang sejenis.

Kompetisi yang terjadi lebih bersifat head-to-head,
Dan anda masih bisa sedikit bernafas laga karena focus yang dibutuhkan untuk memenangkan persaingan di layer ini relative masih sedikit.

Sebagai contoh,
jika anda produsen kendaraan roda 4, anda akan bersaing dengan produsen-produsen kendaraan roda 4 lainnya.
Toy*ta, H*nda, Suz*ki dll akan bersaing secara head-to-head dengan pabrikan sejenis lainnya seperti Mitsub*shi, Merc*dez dll
Jika anda bermain dalam bidang leasing kendaraan roda 2, F*F akan head-to-head dengan Ad*ra, W*m, dll….


Layer ke-3,
Bisa dipastikan, dalam layer ini “pertempuran” akan lebih sengit dan membutuhkan konstentrasi penuh dari anda karena anda harus focus dalam banyak hal.
Anda akan di-challenge dari berbagai arah.
Melihat ilustrasi/gambar di atas, ada 4 hal dalam layer ini :
  1. New comers
  2. Subtitutions
  3. Suppliers
  4. Buyers

NEW COMERS
Kemajuan dalam segala bidang saat ini hampir memastikan seakan-akan tidak ada sekat lagi antar daerah atau bahkan antar Negara termasuk dalam hal perekomonian.
Kita bisa mengakses atau mendapatkan informasi yang sangat cukup tentang potensi-potensi ekonomi dari bangsa lain.
Dengan kalkulasi yang matang, mungkin kita akan melakukan investasi ataupun investasi bisnis kita ke daerah/Negara baru.

Masih jelas dalam ingatan kita hingar-bingar IIMS (Indonesia International Motor Show) kemarin.
industri otomotif kita akan diramaikan dengan banyak sekali new comers dengan segudang produk andalannya.

Begitu juga dalam bidang-bidang bisnis lainnya.
Akan banyak sekali investor-investor baru yang muncul.
Anda harus mulai focus akan kehadiran mereka seandainya mereka berbisnis dalam hal yang sama dengan kita.


SUBSTITUTION
Sekitar pertengahan tahun 90’an, ketika pertama kali kita mempunya pager Star*o,
Luarrr biasaa senangnya...

Saya pun masih ingat, ketika salah satu om saya diterima di sebuah perusahaan yang bergerak dalam bisnis pager,
saya sangat bangga kepadanya.
Kalau tidak salah, perusahaannya namanya Indo*ell
Bayangan saya waktu itu, Indo*ell sama seperti Te*kom. Sehingga akan mengikuti kesuksesan dan ketenaran Te*kom.
Gaji dan kesejahteraannya pun pasti setara dengan perusahaan-perusahaan besar lainnya

Tapi kenyataan berkata lain, akhir 90’an atau awal 2000’an saya dapat kabar om saya jadi job seeker again.
Evolusi telekomunikasi telah terjadi….
Pager telah tergantikan dengan Hand Phone..
Musnaahhh, hilangg.. begitu saja.. 
Perusahaanya tidak mampu/telat beradaptasi dan collaps..

Tidak hanya pager, sekarang pun telepon saluran kabel pun sudah mulai ditinggalkan orang seiring penggunaan HP..

Dan,
Tahukah anda… bisnis pelat baja pun sekarang sudah mulai waspada.

Banyak sekali sekarang alternative material yang ditemukan.

Body mobil pun sekarang mulai meninggalkan teknologi pelat besi dan beralih ke composite ataupun sejenis fiber untuk mengurangi bobot kendaraan dan efesiensi bahan bakar.

Pesawat pun sekarang sudah mulai mensubtitusi beberapa bagian bodynya dengan material2 alternatif ( semacam serat karbon kalau gk salah..)
Kapal selam pun juga demikian, mulai meninggalkan pelat baja/besi.

Lalu bagaimana dengan bisnis kita?
Kalau R & D kita tidak cepat tanggap, pasti bisnis kita pun akan tergerus oleh perkembangan teknologi yang sedemikian cepetnya karena produk kita tidak laku lagi di pasaran.

Nahh, berarti focus kita bertambah satu lagi… 


BUYERs
Anda pasti tahu, sekarang Dept. Store, swalayan, ataupun Indom*rt ataupun Alfam*rt banyak sekali mengeluarkan produk-produk dengan merk mereka sendiri dengan harga yang lebih kompetitif.

Minyak Goreng F*lma, S*nco dll bersaingnya tidak lagi head-to-head dengan kompetitor sebidangnya tapi sekarang mulai bersaing juga dengan minyak goreng produk-produk dept store tersebut.

Dept store tersebut mampu memberikan alternative pilihan produk ke pembeli untuk disesuaikan dengan kemampuan kantongnya.
Hal ini pun, harus kita perhatikan demi keberlanjutan bisnis kita.


SUPPLIERs
Kalau selama ini anda bergerak dalam bidang supply barang dan itu anda lakukan terus menerus sehingga lama-lama anda hapal dan paham dengan seluk beluk bisnis yang dijalankan buyer anda, apakah anda tidak tertarik untuk menjajal bisnis yang sama dengan bisnis buyer anda?

Tentu saja… 

Saya ambil contoh gampangnya..

Jika anda punya kebun luas yang menghasilkan singkong dalam jumlah besar.
Lalu anda memasok kebutuhan singkong dari sebuah pabrik penghasil keripik singkong.
Dan akhirnya anda menjadi supplier tetap untuk pabrik keripik singkong tersebut selama bertahun-tahun.
Karena interaksi keseharian anda dengan pabrik keripik singkong tersebut sehingga anda tertarik dan merasa mampu untuk berbisnis keripik singkong, anda pasti akan mulai berpikir kenapa tidak sekalian saja saya berbisnis keripik singkong?

Begitu juga dengan bisnis anda sekarang…
Supplier-supplier anda pun bisa jadi suatu saat akan menjadi competitor anda.
Dan itu sudah jamak terjadi saat ini.

Jika bisnis anda dianalogikan dengan permainan bola,
Ibarat bermain bola, dalam sebuah lapangan sepak bola dimana ada 11 orang pemain anda tapi 11 orang tersebut diberi tidak hanya 1 bola.
Tapi 4 bola atau 5 bola sekaligus...
Apakah tim anda mampu berkonsentrasi dengan 4 atau 5 bola sekaligus dan mencetak banyak goal atau malah terseok-seok tidak bisa konsentrasi karena saking banyaknya bola yang harus ditangani.

So……. Prepare urself  as well as possible now…. 

0

Tuhan Maha Kuasa, Maha Pemberi, dan Maha Penolong hamba-hamba-Nya.

Posted by Sinden Kata on 15.25
ibadah haji, ladang ibadah kita...

diceritakan oleh ibu saya,
ini cerita nyata dari bulek saya, adiknya ibu..

pada awal berumah tangga, bulek saya pernah mukim di kota Makkah-Madinah.
saat mukim di Madinah, ibu mertuanya datang dari Indonesia untuk menunaikan haji tapi dalam kapasitas "turis".
artinya, karena keterbatasan dana, ibu mertuanya berangkat haji tidak memakai jasa Depag ataupun KBIH.
dengan demikian, ibu mertuanya tersebut sangat bergantung dengan segala bantuan, arahan, dan tumpangan dari bulek saya tersebut.

sesampainya di Madinah, rangkaian ibadah haji pun dimulai..
segala bantuan tenaga, pikiran, dll telah dilakukan bulek saya untuk menemani ibu mertuanya yang sedang haji supaya lancar dan khidmat..

tapi akhirnya masalah pun muncul..
ini adalah tentang dana atau uang...

bulek saya pada waktu mukim telah mempunyai 2 anak yang masih kecil...
sayang, saya tidak mendapatkan informasi dari ibu saya apa pekerjaan suami bulek saya...
yang diceritakan ibu ke saya, namanya juga perantauan di negeri orang, kondisi ekonomi bulek saya sangat pas-pasan..

ketika harus berangkat menuju Makkah untuk melanjutkan ibadah hajinya, ibu mertuanya berkata ke bulek saya..." lha aku iki meh neng Makkah mbok sanguni rak?" ("lha ini aku mau ke Makkah, kamu kasih bekal (uang) atau tidak?")...

saat itu bulek saya sedang "krisis-krisinya".
lalu, bulek saya segera menjauhi ibu mertuanya untuk menghitung kemampuan finansialnya.
bulek saya memutuskan, dari jatah uang sebulan yang dia terima dari suami akan dia berikan semua. dia hanya menyisikan uang belanja dapur untuk 2 hari ke depan itupun demi makannya anak-anak.

lalu dia berdoa, "Ya Alloh, Engkau pasti tahu keadaan saya. saya saat ini juga sedang mmbutuhkan uang banyak. tapi saya ikhlas memberikan uang ini buat menyenangkan hati ibu saya dan sebagai bekal ibadah hajinya".

berangkatlah mereka ke Makkah.

seiring berjalannya waktu di Makkah, tanpa menceritakan ke ibu mertuanya, "himpitan" akan kebutuhan uang sangat dirasakan bulek saya. uang pun habis ditangan.

justru, pada kondisi kritis ini lah keajaiban atau lebih tepatnya pertolongan Tuhan terjadi.
seusai menunaikan sholat di Masjidil Haram, masih dalam posisi takhiyyat tiba-tiba di depan bulek saya ada laki-laki tinggi besar menjatuhkan segepok uang real di pangkuannya.

Tidak kenal, kaget dan takutpun campur aduk dalam dirinya..
"ini uang apa?! ini uang siapa?! kamu siapa?!, teriaknya dalam bahasa arab.

"untukmu...! untukmu...! untukmu...!", jawab laki-laki tersebut seraya berlalu.

ternyata uang yg dberikan dlm jumlah berkali lipat kalo dibandingkan uangnya yang diberikannya ke ibu mertua. 
pecahlah tangis sedunya sambil ucap syukur berkali-kali.

Sampai sekarang pun dia tidak tahu siapa laki-laki tinggi besar itu.

---
Tuhan Maha Kuasa, Maha Pemberi, dan Maha Penolong hamba-hamba-Nya.




0

Mungkinkah Rp. 50.000,- menjadi Rp. 500.000,-??

Posted by Sinden Kata on 23.58
Lama tidak menulis,
Hari ini, jari-jariku menyinden lagi…


02 September 2014, 04:00 WIB…

Selepas sholat malam dan subuh, aku pun membangunkan istriku untuk sholat…

Karena aku sudah duluan sholat, maka ketika istriku sholat aku pun menyalakan TV untuk sekedar menonton berita.

Selesai sholat, istriku memulai obrolan dengan pertanyaan..
“Pa, dulu kamu ngasih sumbangan anak yatim di sekolahan Rassya (anakku) emang berapa?”
Pertanyaan sama yang pernah dia tanyakan padaku dua tahun yang lalu…


Dua tahun yang lalu….

Seperti biasanya, aku mengantar Rassya ke sekolahnya.
Aku anggap, tidak ada hal yang akan terjadi diluar biasanya…
Nganter, sampai sekolah, nurunin anak, dan menemaninya sampai ke kelasnya, pamitan, dan lalu pergi…
Ternyata perkiraanku salah…
Sesampainya aku nganter anak ke kelasnya, tiba-tiba gurunya ( Bu Ima) bertanya padaku…

“Pak, apakah ada amplop santunannya Rassya?”

Kaget aku dibuatnya dengan pertanyaan itu…
Ketidaktahuanku ternyata membuat Bu Ima salah tingkah.
Akhirnya, dia menjelaskan kalau hari ini adalah batas akhir penyerahan amplop santunan…

Semakin kagetlah diriku, kenapa istriku tidak pernah cerita padaku?
Ku jawab, “Ya, Bu… sebentar… saya bisa minta amplopnya?”
Bu Ima masuk ke ruang guru dan kembali lagi sambil membawa amplop putih kecil.

Kulangkahkan kaki menjauhi Bu Ima sambil tangan kananku merogoh dompet dari saku celana.
Begitu ku buka dompet, Yaa Salammmmm….. hanya ada 1 lembaran uang Rp. 50.000,-
Ku masukkan uang tersebut ke amplop dan kutarik lapisan lemnya agar amplop tertutup rapat lalu ku serahkan ke Bu ima…. “ini, Bu… makasih”.
segera kutinggalkan kelas anakku.

Masuk mobil, tanpa mengurangi ikhlasku akan santunan, aku telpon istriku untuk complain kenapa dia tidak aware akan hal itu…

memang, selama ini aku banyak komplain ke istriku jika ada ketidakberesan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan sekolah anak.
Misal, buku pelajaran ketinggalan… buku pelajaran sobek… seragam kurang bersih… tas sekolah kotor… dll.. termasuk uang santunan ini.

Aku sering bilang, pastikan segala sesuatu yang berhubungan dengan sekolah anak perfect…
Buatlah anak itu bangga dengan apa yang ada di dirinya ketika disekolah, jangan sekali-kali membuat anak minder, dan buatlah anak itu berbeda dengan teman2nya karena prestasi dan penampilannya.

Waktu berlalu…………
Tanpa kita ketahui, pihak sekolah ternyata memajang semua donatur di papan sekolahan tentang jumlah uang santunan dari orang tua siswa…

Kuterima BBM dari istri, “kemarin pas santunan papa ngasih berapa?”
“Rp. 50.000,-“, jawabku…
Lanjut istriku, “kok kata ibu-ibu temannya Rassya tertulis”Mama Rassya = Rp. 500.000,-“?”.
“masa??”, kagetku… “coba besok disekolah dilihat sendiri apa benar Rp. 500.000,-“.

Keesokan harinya, istriku mengabarkan, memang benar tertulis “Mama Rassya = Rp. 500.000,-“ diantara nama Ibu-ibu lainnya yang rata-rata santunannya berkisar Rp. 50.000 – Rp. 200.000.
Dasar ibu-ibu, karena kejadian itu, men-seleb-lah istriku disekolahan anakku karena tulisan itu.


Kembali, 02 September 2014, 04:00 WIB…

“tadi ibu-ibu pada ngomongin masalah santunan itu lagi”, kata istriku.
Kata mama xxxxx, “Ibu itu orangnya sederhana ya dan tidak sombong. Dulu aja nyumbang Rp. 500.000,-“.
“enggak, Bu… dulu cuma nyumbang Rp. 50.000,- kok“, sanggah istriku.
Kata mama yyyy, “Ibu itu… blaa…blaa… blaa.. “
Tanpa kudetilkan obrolan antar mereka, yang pasti obrolan mereka hanya pujian buat istri sesekali enyel-enyelan tentang Rp. 50.000,- dan Rp. 500.000,- itu.


Wahhh, semakin men-seleb nih istriku….
Kirain topic santunan tersebut sudah berhenti… ehhh, lepas dua tahun masih aja diobrolin…
Ibu-ibu kalau sudah ngrumpi sangat dahsyat efeknya…..

Paling juga pihak sekolah salah ketik ngumuminnya….
Atau, pihak sekolah kasihan… biar gk malu-malu amat karena hanya nyumbang Rp. 50.000,- akhirnya ditulis Rp. 500.000,-……….. hahahaha (dalam hatiku).





Copyright © 2009 Sinden Kata All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.